Mengajukan cuti selama dua hari kerja minggu kemarin. Sebuah Ransel kecil telah di Packing. Pergi Berlibur seperti menemukan oase di padang tandus. Menggunakan Kereta Api yang ditempuh selama 7 Jam membuat saya kembali ke masa lalu. Kereta Api memenuhi ruang imajinasi dan memori sebagian hidup saya.
Ketika Ayah pindah tugas diujung kabupaten provinsi Sumatera Selatan. Menggunakan setelan rok pink, saya berumur 9 Tahun dan naik ke kelas 4 SD, diksi tentang perpisahan, meraung raung di kepala. Sebuah perpisahan yang membekas. Mulai hari itu saya tahu bahwa saya menyukai momen, dan setiap hal,orang berkesan. Diatas Kereta Api Sindang Marga, teriakan bongkol ( kue ketan yang dibalut daun pandan), pempek dan air mineral dingin serta beberapa menjual koran bekas untuk alas tidur. Ku pandangi Jendela, ada rintik hujan di atas kaca kereta. Bunyi rantai gerbong yang gagah memecah kesunyian malam.
Alergi yang saya derita, membawa saya naik kereta api setiap bulan, masih saya ingat dr Yulia namanya. Beliau bertanya apakah alergi di kaki masih sering gatal, apakah salep nya cocok.Sebelum pulang biasanya Ayah mengajak membeli buah potong di depan Kantor Pos Palembang, makan burgo ( adonan Tepung Beras yang dicampur kuah santan) di kantin Dokter RS AK Gani, serta menikmati Jembatan Ampera yang gagah membelah Sungai Musi. Sebuah kenangan manis bersama Ayah.
Menjelang SMP hingga SMA beberapa kali kereta api mengantarku, selain kerumah saudara, perlombaan olimpiade dan mengurus beberapa dokumen. Menatap pohon dan tumbuhan yang hijau, saya berpikir bahwa tidak selalu warna hitam yang memberikan kesan misterius. Dibalik pohon hijau besar yang dihadang oleh rumput liar menjalar. Entah misteri apa yang tersimpan.
Kereta Api Sindang Marga- Bukit Serelo dan PT KAI juga mengalami beberapa transformasi,
Dari mulai teratur nya jadwal keberangkatan dan kedatangan, revitalisasi stasiun, serta perbaikan dan perawatan rel. Sebuah perubahan untuk kenyamanan berkendara.
Ada sebuah keterikatan dibangku kereta, pernah bersama seseorang di iringi musik, Phill Colins, pernah menelan air Liur karena tak ada uang untuk beli Pop Mie, Menangis tersedu tidak lulus assestment. Baru- baru ini Kereta Api membawaku kembali melewati hamparan Hutan Sumatera dan membuatku kembali menemukan titik balik.


0 Komentar